alfafiv
01-14-2011, 04:43 PM
Setelah membaca buku harian Fahran tersebut, Hana menangis sejadi-jadinya. Ia tidak tahu bahwa Fahran adalah orang yang sangat-sangat baik. Ia rela mengorbankan semuanya untuk Hana. Rasa cinta Hana yang telah bersemi, kini telah tumbuh dan berbunga. Namun disisi lain, Hana telah membagi cintanya dengan Hasbi tunangannya. Hana tidak akan meninggalkan Hasbi begitu saja.
Setelah itu Hana langsung berlari menuju kamar Fahran. Ia meliha Fahran dengan penuh cinta. Sambil berhamburan air mata, Hana masuk ke dalam. Hana memperhatikan wajah Fahran.
Fah, maafkan aku telah membuatmu seperti ini , kata Hana lirih.
Namun belum melanjutkan perkataannya, Hana menangis semakin menjadi-jadi. Ia terlarut dalam air matanya sendiri. Ia melihat mata Fahran juga mengeluarkan air mata. Mungkin Fahran juga merasakan apa yang terjadi meskipun belum sadar.
Tiba-tiba dalam suasana sedih itu, Fahran membuka matanya. Hana terkejut sekaligus bersyukur. Ia langsung menghampiri Fahran dan menangis di atas dadanya.
Maafkan aku Fah, maafkan aku , Hana mengatakan.
Sudahlah Han, tidak apa-apa, tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi. Aku sudah baikan, justru aku yang minta maaf kepadamu. Aku juga tidak akan menjelaskan apa-apa lagi. Sudah cukup bagiku Han. Kehadiranmu disini sudah mengobati rasa rinduku yang telah mengkristal. Sudah, jangan kau menangis lagi, karena aku tak akan bisa menghapus air matamu. jawab Fahran.
Fahran tidak melanjutkan kata-katanya, tetapi ia hanya tersenyum melihat Hana. Tetapi Hana masih terus menangis.
Han, teruskanlah cintamu dengan tunanganmu. Aku bukan seseorang yang pantas untukmu. Maafkan aku jika aku tidak dapat hadir dalam pesta pernikahanmu. Insya Allah lusa aku sudah akan pindah untuk meneruskan kuliah dan agar tidak terlalu jauh dari kampus. Aku kembali ke sini hanya karenamu. Sudah Han, jangan kau teruskan lagi tangismu, aku ikhlas menerima semuanya.
Tapi Fahran ., Hana menyela.
Lalu Fahran menutup bibir Hana dengan telunjuk jarinya sambil tersenyum. Saat itu Hana mulai berhenti menangis.
Setelah beberapa jam berbincang, Hana berpamitan pulang. Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahannya yang sudah semakin dekat. Tepat jam 4 sore Hana berpamitan. Ia kembali meneteskan air matanya tetapi ia paksakan untuk tersenyum. Fahran pun juga tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Hana. Anggukkan yang mengisyaratkan seolah-olah berkata, Lanjutkan hidupmu tanpaku, aku yakin kau bisa dan aku selalu mendukungmu.
Dua hari telah berlalu, Fahran sudah sembuh dan kembali pulang ke rumahnya. Hari itu adalah hari ia akan pindah. Ia bersama-sama ibunya sudah siap, hanya tinggal berangkat.
Sedangkan Hana semakin mendekati pernikahannya. Cinta dengan Hasbi semakin besar. Tetapi ditengah kebahagiaan Hana dan Hasbi, tiba-tiba pada waktu sekitar jam 05.00 pagi, muncullah seorang perempuan yang menggedor-gedor pintu rumah Hana yang kebetulan ada Hasbi di sana. Tampaklah perempuan itu sedang hamil.
Hasbi, Hasbi, ..di mana kau?, kata wanita itu.
Hasbi kau jangan bersembunyi, aku tahu kaku di sini? suara wanita itu semakin keras.
Hana menuju ke depan dan membukakan pintu.
Maaf Mbak, ada apa ya?, jawab Hana.
Mana Hasbi ? mana?, katanya wanita itu menyeringai.
Kemudian Hasbi datang dan sangat terkejut melihat kedatangan wanita itu. Hasbi seolah-olah tidak mengetahui. Tetapi wanita itu berteriak setelah melihat Hasbi datang.
O .jadi disini kau rupanya? Kudengar kau akan menikah lagi, he? Apa kau ini binatang? Kau tidak lihat aku yang sedang hamil seperti ini. Membiayai semua perawatan sendiri. Kau tidak pernah memberiku nafkah. Sekarang kau tiba-tiba menghilang dan menikah lagi. Biadab kau Has.
Mendengar perkataan wanita itu Hana sangat terkejut. Matanya mulai sayu dan berbalik bertanya kepada Hasbi,
Benarkah apa yang diucapkan oleh dia Has? Jawab!, tanya Hana.
Han, aku bisa jelaskan, aku ., jawab Hasbi, tetapi belum selesai melanjutkan perkataannya, wanita itu berkata,
Benar sekali Mbak. Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi Has. Semuanya telah terbuka. Dan mulai saat ini kau tidak akan lagi mengacaukan hidup seseorang, karena kau sudah aku laporkan kepada polisi atas tuduhan pencurian yang pernah kau lakukan dulu.
Mendengar perkataan itu hati Hana luluh lantah. Di saat seperti itu Hana hanya bisa menangis dan menangis. Di tengah-tengah tangisannya. Ia teringat Fahran. Kini Hana tahu bahwa kata hatinya benar. Fahran adalah orang yang benar-benar ia sayang dan cintai. Ia teringat ketika Fahran mengorbankan semua yang ada pada dirinya. Ia ingat betapa besar pengorbanan Fahran. Ketika dia mengorbankan pendidikannya karena tidak ikut tes akhir kelulusan. Ketika ia mengorbankan hartanya saat membuatkan hadiah untuk Hana. Bahkan ketika ia mengorbankan nyawanya saat melindungi Hana dari preman-preman itu. Bahkan ketika tahu bahwa kejadian 6 tahun yang lalu itu bukanlah kehendak Fahran. Hana sadar dan terbangun dari tidurnya bahwa Fahran adalah cinta sejatinya. Tiba-tiba rasa tindu dan cinta yang sangat besar timbul di hatinya.
Saat itu ia bertekad untuk kembali kepada Fahran dan ingin membangun kembali cintanya. Tetapi ia ingat hari itu adalah hari kepindahan Fahran dari rumahnya. Dengan tergesa-gesa ia meminta diantar kakaknya ke rumah Fahran untuk menjelaskan semuanya.
Saat tiba di rumah Fahran, rumahnya sudah sepi. Tidak ada seorang pun yang ada di sana. Waktu ada tetangga lewat, tetangga tersebut mengatakan bahwa Fahran dan ibunya sudah berangkat ke terminal jam 05.00 tadi. Dengan rasa cemas bercampur rasa salah, Hana menuju ke terminal. Kakanya pun memacu mobilnya dengan cepat. Ia berharap Fahran masih ada di sana. Walaupun mustahil, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30.
Sampai di terminal Hana berlari ke sana kemari mencari Fahran. Tetapi nihil. Ia hanya menemukan seseorang yang mirip Fahran. Tetapi ia tiba-tiba melihat seseorang yang mirip dengan Fahran untuk kedua kalinya. Orang itu sudah menaikkan kakinya ke bis. Hana yakin itu adalah Fahran.
Ia mengumpulkan semua tenaganya dan memanggil,
Fahran .., Fahran .
Lalu orang itu menoleh ke Hana.
Lho Han, kenapa kau ada disini?, jawab orang itu.
Ternyata dia memang Fahran.
Hana tidak menjawab. Ia hanya berlari dan memeluk Fahran seerat-eratnya.
Aku tidak mau kehilangan kau lagi kasih. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Jangan pergi tinggalkan aku lagi, kata Hana sambil terisak-isak dalam tangisnya. Fahran hanya tersenyum dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas semuanya. Fahran pun tidak jadi pindah. Setelah itu, tiba-tiba Fahran menerima telepon dari teman sekampusnya.
Fah, ternyata ujian terakhir kita ditunda, dan aku menerima surat penawaran yang ditujukan kepadamu untuk bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit yang terkenal di kotamu., kata teman Fahran dengan gembira.
Fahran tidak kuasa menahan kegembiraan dan rasa syukurnya. Ia seketika sujud syukur kepada Tuhannya di terminal itu. Dan kakak Hana meminta maaf atas semua perlakuannya yang dulu, karena semua tidakah benar apa yang ia katakan
Satu bulan kemudian Fahran menikah dengan Hana dengan penuh kebahagiaan. Ia bersyukur telah melaksanakan amanah ayahnya dengan baik. Dalam suasana bahagi tersebut Hana sempat bertanya kepada Fahran,
Fahran, kenapa dulu ketika di terminal engkau belum berangkat, sedangkan kau berangkat dari rumah jam 05.00 dan harus segera kan?
Han, biar aku ceritakan. Saat aku akan naik bis, aku melihat kebun bunga di samping terminal. Tiba-tiba ada firasatku yang muncul. Aku meminta ibu untuk turun dan melihat kebun itu. Di sana ada bunga mawar yang berwarna biru. Padahal biasanya berwarna merah. Aku teringat namamu HANA, karena arti dari bahasa arabnya adalah bunga. Oleh karena itu aku petik bunga itu dan aku bawa. Mungkin kau akan datang untuk mengucapkan sesuatu untukku. Itulah yang membuat aku agak terlambat masuk ke dalam bis. Namuun, semuanya berakhir indah kan cintaku?seperti wajahmu yang bagai bunga yang indah itu., jawab Fahran dengan tersenyum.
Hana pun hanya tersenyum dan wajahnya memerah. Ia pun kembali memeluk orang yang sudah halal untuk ia sentuh yang sangat dicintainya itu dengan bahagia.
Mojokerto, 18 Juni 2010
Jumat 07:17 pagi hari.
Alfa Ajinata Afiv Ananda,
Birunya Bunga Mawar Dalam Air yang Bercahaya
Setelah itu Hana langsung berlari menuju kamar Fahran. Ia meliha Fahran dengan penuh cinta. Sambil berhamburan air mata, Hana masuk ke dalam. Hana memperhatikan wajah Fahran.
Fah, maafkan aku telah membuatmu seperti ini , kata Hana lirih.
Namun belum melanjutkan perkataannya, Hana menangis semakin menjadi-jadi. Ia terlarut dalam air matanya sendiri. Ia melihat mata Fahran juga mengeluarkan air mata. Mungkin Fahran juga merasakan apa yang terjadi meskipun belum sadar.
Tiba-tiba dalam suasana sedih itu, Fahran membuka matanya. Hana terkejut sekaligus bersyukur. Ia langsung menghampiri Fahran dan menangis di atas dadanya.
Maafkan aku Fah, maafkan aku , Hana mengatakan.
Sudahlah Han, tidak apa-apa, tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi. Aku sudah baikan, justru aku yang minta maaf kepadamu. Aku juga tidak akan menjelaskan apa-apa lagi. Sudah cukup bagiku Han. Kehadiranmu disini sudah mengobati rasa rinduku yang telah mengkristal. Sudah, jangan kau menangis lagi, karena aku tak akan bisa menghapus air matamu. jawab Fahran.
Fahran tidak melanjutkan kata-katanya, tetapi ia hanya tersenyum melihat Hana. Tetapi Hana masih terus menangis.
Han, teruskanlah cintamu dengan tunanganmu. Aku bukan seseorang yang pantas untukmu. Maafkan aku jika aku tidak dapat hadir dalam pesta pernikahanmu. Insya Allah lusa aku sudah akan pindah untuk meneruskan kuliah dan agar tidak terlalu jauh dari kampus. Aku kembali ke sini hanya karenamu. Sudah Han, jangan kau teruskan lagi tangismu, aku ikhlas menerima semuanya.
Tapi Fahran ., Hana menyela.
Lalu Fahran menutup bibir Hana dengan telunjuk jarinya sambil tersenyum. Saat itu Hana mulai berhenti menangis.
Setelah beberapa jam berbincang, Hana berpamitan pulang. Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahannya yang sudah semakin dekat. Tepat jam 4 sore Hana berpamitan. Ia kembali meneteskan air matanya tetapi ia paksakan untuk tersenyum. Fahran pun juga tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Hana. Anggukkan yang mengisyaratkan seolah-olah berkata, Lanjutkan hidupmu tanpaku, aku yakin kau bisa dan aku selalu mendukungmu.
Dua hari telah berlalu, Fahran sudah sembuh dan kembali pulang ke rumahnya. Hari itu adalah hari ia akan pindah. Ia bersama-sama ibunya sudah siap, hanya tinggal berangkat.
Sedangkan Hana semakin mendekati pernikahannya. Cinta dengan Hasbi semakin besar. Tetapi ditengah kebahagiaan Hana dan Hasbi, tiba-tiba pada waktu sekitar jam 05.00 pagi, muncullah seorang perempuan yang menggedor-gedor pintu rumah Hana yang kebetulan ada Hasbi di sana. Tampaklah perempuan itu sedang hamil.
Hasbi, Hasbi, ..di mana kau?, kata wanita itu.
Hasbi kau jangan bersembunyi, aku tahu kaku di sini? suara wanita itu semakin keras.
Hana menuju ke depan dan membukakan pintu.
Maaf Mbak, ada apa ya?, jawab Hana.
Mana Hasbi ? mana?, katanya wanita itu menyeringai.
Kemudian Hasbi datang dan sangat terkejut melihat kedatangan wanita itu. Hasbi seolah-olah tidak mengetahui. Tetapi wanita itu berteriak setelah melihat Hasbi datang.
O .jadi disini kau rupanya? Kudengar kau akan menikah lagi, he? Apa kau ini binatang? Kau tidak lihat aku yang sedang hamil seperti ini. Membiayai semua perawatan sendiri. Kau tidak pernah memberiku nafkah. Sekarang kau tiba-tiba menghilang dan menikah lagi. Biadab kau Has.
Mendengar perkataan wanita itu Hana sangat terkejut. Matanya mulai sayu dan berbalik bertanya kepada Hasbi,
Benarkah apa yang diucapkan oleh dia Has? Jawab!, tanya Hana.
Han, aku bisa jelaskan, aku ., jawab Hasbi, tetapi belum selesai melanjutkan perkataannya, wanita itu berkata,
Benar sekali Mbak. Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi Has. Semuanya telah terbuka. Dan mulai saat ini kau tidak akan lagi mengacaukan hidup seseorang, karena kau sudah aku laporkan kepada polisi atas tuduhan pencurian yang pernah kau lakukan dulu.
Mendengar perkataan itu hati Hana luluh lantah. Di saat seperti itu Hana hanya bisa menangis dan menangis. Di tengah-tengah tangisannya. Ia teringat Fahran. Kini Hana tahu bahwa kata hatinya benar. Fahran adalah orang yang benar-benar ia sayang dan cintai. Ia teringat ketika Fahran mengorbankan semua yang ada pada dirinya. Ia ingat betapa besar pengorbanan Fahran. Ketika dia mengorbankan pendidikannya karena tidak ikut tes akhir kelulusan. Ketika ia mengorbankan hartanya saat membuatkan hadiah untuk Hana. Bahkan ketika ia mengorbankan nyawanya saat melindungi Hana dari preman-preman itu. Bahkan ketika tahu bahwa kejadian 6 tahun yang lalu itu bukanlah kehendak Fahran. Hana sadar dan terbangun dari tidurnya bahwa Fahran adalah cinta sejatinya. Tiba-tiba rasa tindu dan cinta yang sangat besar timbul di hatinya.
Saat itu ia bertekad untuk kembali kepada Fahran dan ingin membangun kembali cintanya. Tetapi ia ingat hari itu adalah hari kepindahan Fahran dari rumahnya. Dengan tergesa-gesa ia meminta diantar kakaknya ke rumah Fahran untuk menjelaskan semuanya.
Saat tiba di rumah Fahran, rumahnya sudah sepi. Tidak ada seorang pun yang ada di sana. Waktu ada tetangga lewat, tetangga tersebut mengatakan bahwa Fahran dan ibunya sudah berangkat ke terminal jam 05.00 tadi. Dengan rasa cemas bercampur rasa salah, Hana menuju ke terminal. Kakanya pun memacu mobilnya dengan cepat. Ia berharap Fahran masih ada di sana. Walaupun mustahil, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30.
Sampai di terminal Hana berlari ke sana kemari mencari Fahran. Tetapi nihil. Ia hanya menemukan seseorang yang mirip Fahran. Tetapi ia tiba-tiba melihat seseorang yang mirip dengan Fahran untuk kedua kalinya. Orang itu sudah menaikkan kakinya ke bis. Hana yakin itu adalah Fahran.
Ia mengumpulkan semua tenaganya dan memanggil,
Fahran .., Fahran .
Lalu orang itu menoleh ke Hana.
Lho Han, kenapa kau ada disini?, jawab orang itu.
Ternyata dia memang Fahran.
Hana tidak menjawab. Ia hanya berlari dan memeluk Fahran seerat-eratnya.
Aku tidak mau kehilangan kau lagi kasih. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Jangan pergi tinggalkan aku lagi, kata Hana sambil terisak-isak dalam tangisnya. Fahran hanya tersenyum dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas semuanya. Fahran pun tidak jadi pindah. Setelah itu, tiba-tiba Fahran menerima telepon dari teman sekampusnya.
Fah, ternyata ujian terakhir kita ditunda, dan aku menerima surat penawaran yang ditujukan kepadamu untuk bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit yang terkenal di kotamu., kata teman Fahran dengan gembira.
Fahran tidak kuasa menahan kegembiraan dan rasa syukurnya. Ia seketika sujud syukur kepada Tuhannya di terminal itu. Dan kakak Hana meminta maaf atas semua perlakuannya yang dulu, karena semua tidakah benar apa yang ia katakan
Satu bulan kemudian Fahran menikah dengan Hana dengan penuh kebahagiaan. Ia bersyukur telah melaksanakan amanah ayahnya dengan baik. Dalam suasana bahagi tersebut Hana sempat bertanya kepada Fahran,
Fahran, kenapa dulu ketika di terminal engkau belum berangkat, sedangkan kau berangkat dari rumah jam 05.00 dan harus segera kan?
Han, biar aku ceritakan. Saat aku akan naik bis, aku melihat kebun bunga di samping terminal. Tiba-tiba ada firasatku yang muncul. Aku meminta ibu untuk turun dan melihat kebun itu. Di sana ada bunga mawar yang berwarna biru. Padahal biasanya berwarna merah. Aku teringat namamu HANA, karena arti dari bahasa arabnya adalah bunga. Oleh karena itu aku petik bunga itu dan aku bawa. Mungkin kau akan datang untuk mengucapkan sesuatu untukku. Itulah yang membuat aku agak terlambat masuk ke dalam bis. Namuun, semuanya berakhir indah kan cintaku?seperti wajahmu yang bagai bunga yang indah itu., jawab Fahran dengan tersenyum.
Hana pun hanya tersenyum dan wajahnya memerah. Ia pun kembali memeluk orang yang sudah halal untuk ia sentuh yang sangat dicintainya itu dengan bahagia.
Mojokerto, 18 Juni 2010
Jumat 07:17 pagi hari.
Alfa Ajinata Afiv Ananda,
Birunya Bunga Mawar Dalam Air yang Bercahaya