PDA

View Full Version : Graffiti Kepada Bayang Malaikat



samaratungga
09-22-2009, 03:00 PM
Graffiti Kepada Siluet Malaikat


Setelah semua jadi fosil
kita pun menengok pada belantara kenangan
menoleh pada jarak yang ditindih masa mengenaskan
pada sesuatu yang tak pernah kembali.

Ghairah yang bersijingkat melompat
menyodorkan amal amoral segala bejat
yang dibungkus kebebasan tanpa batas.

Masa silam kadang membuat lupa
bahawa kita pernah menitip
sebuah kisah di tangan Sang Maha di lapis langit
yang tidak hidup dalam selembar ingatanpun
kecuali kitab yang konon dari tuhan
jadi hiasan dinding sebelah tirai dan almari
yang di dalamnya tertata topeng, pisau dan kaset porno
mengintai di sela-sela atlas, kamus, ensiklopedia.

Maka kita sibuk merancang rayuan
dan interupsi dasar konsep aksioma
dengan segudang teori retorika
dan aksentuasi berbau eropa sebagai kamuflase.

Bila-bila saja menjelma alibi depan persidangan
yang empunya kuasa sebagai sang mulia
tanpa perlu ketuk palu
tanpa perlu lambang timbangan yang seimbang.

Keputusan mutlak dengan segala unsur
adil nan hakiki telah terdikte sebaik kun fayakun
dilafalkan sebagai terdakwa,
kita telanjang tanpa malu

Toh pernah menjadi ekshibisionis
sebab kemaluan telah terjangkiti
virus aids dan bakteri sipilis
yang katanya tidak memperhatikan
segi keamanan kecuali kenikmatan
ketika bersetubuh

Ai, senggama tanpa ikatan pun suci
selepas mereka mengesahkan etika pergaulan
muda mudi tanpa rentang hijab yang jelas.
Asal berkondom boleh langsung tancap
sehingga sodomi dan aborsi
tanpa malu menampakkan diri
dari lubang ketabuan
sebagai trend mengikut perkembangan belia
yang oleh sekelompok cerdik pandai
malah diklaim sebagai proses pematangan

Hahahaha...Tertawalah.

Dunia telah kecundang pada kutuk
yang lebih angkara dari kutukan Malin Kundang.

Pada masanya nanti kita bakal meratapi diri sendiri
Kesedihan bermetamorfosis bahasa kanak-kanak
yang terlanjur inosen dan sebatas nonsens.

Sudah tak ada lagi saling cari ibu dan ayah
yang mengajarkan anak anak mereka
pergi ngaji di surau selepas magrib
terus khatam dengan sedikit syukuran.

Atau mulut nenek cerewet melampau
menasihati gadis-gadis dari anak mereka
yang mula gatal mengendus
bau keringat ketiak laki-laki

Atau mulut nenek cerewet melampau
menasihati pemuda-pemuda dari anak mereka
yang mabuk pada padat ranumnya
wangi dada perempuan.

Tanpa perlu revisi, terstempel timbul
tulisan 'dajal' tepat di muka kening kita
terus kita meminta belas kasihan
plus permohonan ampun yang utopi
sedang langit terlanjur runtuh
diterkam badai jagad
ketika selatan, timur, barat, utara hanya menjadi entah
di penghujung hari pada kali terakhir.

Maka inilah kami,
penghuni bumi yang dulu
diamanahkan sebagai khalifah
kini berani mengutuk dengan serapah.

Adakah benar iblis dicipta
punya pengetahuan melebihi
kapasitas kecerdasan tuan Einstein?


Barangkali Kau Telah Lupa

Barangkali kau tak ingat lagi
Pengembaraanku saat itu
Mendaki keheningan bukit
Menghitung daun-daun yang menguning

Matahari di celah daun itu, katamu
Mengajari kita tentang cahaya
Dan kerelaan embun padanya
Di pagi yang mendaki langit

Barangkali memang kau telah lupa
Setapak yang meracik kenangan pada debu
Kau ke utara aku berpaling ke selatan
Rerumputan di bukit berlinangan air mata


Aku Ingin Mendengarmu Lagi

Bisikmu lantang duhai pujangga
Gaduh merayapi rongga-rongga matamu
Membahana dalam syair-syair igauan
Tapi semua begitu beku
Tenggelam dalam diam sejarah

Dimana dirimu kini
Yang dulu kekar memahat kata
Pada dinding-dinding cakrawala

Di atas kanvas permadani
Jiwaku dingin terbelit kerinduan
Aku ingin mendengarmu lagi