PDA

View Full Version : Jarno



samaratungga
07-19-2009, 09:18 PM
Forumers,

Selalu aku post cerpen dengan sad ending.
Tapi sekarang aku cuba post dengan happy ending meskipun jantung ni dup dap dup dap belum ada experience lagi. :)


JARNO

Abu Dzarr, itulah namanya, tapi member dia selalu panggil Jarno saja. Sebenarnya perkataan Jarno ini diberi oleh seorang lelaki yang merupakan warga Australia berketurunan Croatia yang pernah tinggal di rumah Abu Dzarr ketika lelaki itu tengah menuntut ilmu di sini.

Jarno punya seorang kawan yang merupakan jiran sebelah rumah dia, Arumi. Usia Arumi dan Jarno hanya berjarak setahun. Mereka telah berkawan semenjak kecil lagi sehinggalah mereka telah masak dalam memahami perangai masing-masing.

Jarno ialah seorang mamat hensem dalam pandangan Arumi. Arumi perasaan bahawa Jarno hensem apabila mereka telah masuk dalam tahun pertama Sekolah Menengah. Namun penilaian daripada gadis itu tak mungkin diungkap pada Jarno pasal Arumi tak ingin Jarno mendabik dada sendiri apabila mendengar pujian itu. Bukan apa, Arumi faham bila Jarno kena puji bukanlah ucapan terima kasih yang bakal Arumi terima malah akan mendapat rasa kecil hati sahaja.

“Saya faham, saya memang hensem, muka Ar pula kenapa nampak macam hodoh eh,” lebih kurang ayat semacam itu yang Arumi bakal dapatkan.

Itulah pasal Arumi hanya boleh merakamkan pujian itu ke dalam sebuah diary.

“Mak, Ar ni tak cantik ke?” hari itu Arumi luah perasaan pada emak. Biasa la, nama pun gadis, kena luah kat mak kan.

“Napa ni Ar?” emak Arumi yang tengah khusyuk layan rancangan gosip kat TV jadi hairan mendengar soalan anaknya. Satu soalan yang unik. Tiba-tiba emak syak yang Arumi tengah jatuh cinta.

“Ar tengah jatuh cinta kah,” Emak cuba risik sedikit. Ni emak la, mak pernah muda lagi, setakat risik merisik emak dah masak tau,, kata emak dalam hati.

“Koq jawabannya kayak gitu sih Mi, emang nggak ada lain?” kata Arumi sedikit bete.

“Abis nggak ada angin nggak ada hujan elu nanya Mami,” mata Maminya tak rela melepaskan tatapannya pada Luna Maya yang sedang digosipkan dekat dengan Ariel di televisi.

“Nggak Mi, gue cuma nanya aja. Salah nggak sih pertanyaan gue?” Arumi merebut remote control dari Maminya dan menekan nomor satu dan enam. Muka Luna Maya langsung lenyap dari layar tv berganti channel HBO.

Mami Arumi sedikit kesal karena acara favoritnya ditukar dengan semena-mena oleh Arumi. Setelah menguap panjang, Mami berdiri dan merenggangkan persendiannya yang kaku akibat kelamaan duduk di sofa. Mami beringsut menghampiri Arumi. Ia lalu memeluk puteri semata wayangnya itu dengan sayang. Rambut Arumi ia belai. Masih tercium aroma wangi Pantene dari rambut Arumi.

Mami lantas teringat kisah percintaannya ketika remaja sebelum bertemu Papi Arumi, pada kisah cinta pertamanya. Mami tersenyum mengingat betapa tak menentu hatinya saat pacar pertamanya itu menembaknya dengan kalimat cinta di usia Mami yang masih enam belas tahun. Kalimat yang belum pernah Mami dengar sebelumnya itu membuat Mami senang namun gelisah bercampur baur dalam hati. Gelisah sebab ia seolah merasa ada kesalahan dengan lontaran cinta itu. Senang karena rasanya seperti melayang tinggi di awan biru.

“Ar nggak jelek. Ar cantik seperti Mami,” hibur Mami lemah lembut. Ia cium anak gadisnya dan memeluknya erat.

Sejenak Arumi menatap Mami, ia tahu Mami memang cantik meskipun usia tua telah memudarkan kecantikan itu. Tapi kenapa ia merasa mukanya tak secantik Mami waktu remaja seperti dalam album foto mereka? Apakah karena muka Papi nggak ganteng-ganteng amat?

“Koq gue nggak ngerasa cantik sih Mi?” protes Arumi pelan. Ia tak ingin ada orang lain yang mendengar pertanyaan itu, meskipun Papinya sendiri.

Mami hanya tersenyum lagi. Matanya terasa hangat mendengar pertanyaan Arumi anaknya sendiri. Kalau mau jujur sebenarnya muka Arumi memang standar saja. Tak seperti muka Mami waktu remaja. Dan Mami tahu gen Papi tentu lebih mendominasi fisik Arumi. Tapi Mami mana sih di dunia ini yang sanggup menjelekkan anaknya sendiri?

Percakapan hari itu berhenti begitu saja ketika Papi masuk rumah sambil membawa kerjanya.

“Lho Ar, elu nggak sekolah? Tengah hari gini kan mestinya masuk sekolah. Ini malah asyik-asyik berpelukan dengan Mami,” tanya Papi heran.

“Yeee… Papi nggak sadar hari ini cuti kenaikan kelas?” Arumi balas bertanya.

“Papi pikir elu ponteng sekolah lagi,” Papi Arumi membuka tali leher kuning dari kolar bajunya dan masuk ke ruang santai.

Percakapan hari itu berakhir begitu saja tanpa jawaban memuaskan dari Mami. Hati Arumi makin resah.

Petang hari setelah mandi, Arumi seperti biasa pergi ke rumah Jarno. Ia mendapati Jarno tengah melantun-lantunkan bola basket di gelanggang mini belakang rumahnya.

“No.., Jarno…,” Arumi teriak dari jauh. Jarno tercari cari asal suara yang tak asing lagi di telinganya. Dan ia melihat Arumi tengah melambaikan tangan dari jauh tepat di bawah pohon akasia. Jarno gelak sakan apabila melihat Arumi. Dan setelah melakukan slam dunk ia lalu menyepak bola keranjang itu jauh-jauh. Rafly, sepupu Jarno yang tengah membaca di atas pohon terkena sepakan bola Jarno.

“Buset dah, mata elu dikemanain! Main sepak aja, nggak liat orang lagi baca apa,” bentak Rafly kesal akibat lemparan itu. Jarno hanya senyum kambing. Ia berjalan menemui Arumi.

Arumi menanti Rafly. Masih sempat tangan Arumi memetik setangkai bunga di sampingnya. Ia permainkan bunga itu dengan tangannya yang lentik.

“Wah, tumben udah wangi. Mo kemana sih,” tanya Jarno. Peluh masih menetes dari keningnya.

“Biasanya elu nggak pernah wangi begini. Koq sekarang lain?”

Arumi diam saja mendengar sindiran dari Jarno. dIa sudah kebal dengan sindiran Jarno. Ia hanya senyum-senyum dan matanya tak lepas dari bunga di tangannya.

“Senyam senyum aja, elu kesambet jin ya,” Jarno hairan dengan sikap Arumi yang tak macam biasa. Biasanya kan Arumi orangnya selekeh dan jarang mandi.
(Hohoho… kata siapa Arumi selekeh, itu sih penilaian Jarno saja).

Jarno menyentuh kening Arumi. Nggak panas. Tapi koq dia seperti orang kena sampuk jin kayak gitu.

“Elu apa apaan sih megang-megang gue, bau keringat tau,” Arumi menepis tangan Jarno yang kurang ajar. Lalu ia memencet hidung saat mencium bau keringat masam dari badan Jarno.

“Hehe… kirain elu sakit,” jawab Jarno lalu duduk di atas rumput. Arumi ikut duduk di sampingnya.

“No, papi baru bagi dua keping tiket, elu mau ikut sama tak.” tanya Arumi. Ia memperlihatkan dua lembar tiket di tangannya.

“Tiket apaan.” Jarno merebut tiket itu.

“Ya tiket nonton lah. Nonton bola di Senayan. Elu kan hobby nonton bola.” jawab Arumi. Sebenarnya tiket itu Arumi beli sendiri, bukan dapat dari ayahnya.

“Nggak ah. Gue udah janjian entar malam makan di restoran bareng Ayu. Gue nak tackle hati ayu.” Jarno serta merta menolak pelawaan dari Arumi. Rupanya dia telah janjian dengan Ayu. Ayu yang cantik jelita.

“Ar, menurut elu Ayu cantik nggak.” bukannya menerima tawaran Arumi, Jarno malah minta pandangan Arumi tentang Ayu. Jarno tengah menaksir Ayu, teman sekolah mereka yang baru pindah dari Solo.

“Elu suka Ayu?” tanya Arumi. Bunga di tangan Arumi seperti mendadak layu.

“Iya, gue ngerasa dia tertarik ama gue,” jawab Jarno dengan yakin.

“Elu aja kali yang perasan,” Arumi meluku kepala Jarno. Jarno mengaduh kesakitan.

“Sampai hati kamu. Teman sendiri nggak disupport,” kata Jarno.

“Kata siapa, gue sokong koq. Tapi gimana cerita elu dengan Dewi. Elu putusin lagi Dewi.” tanya Arumi. Bunga di tangan Arumi humban di sudut hatinya dengan penuh rasa kecewa.

samaratungga
07-19-2009, 09:20 PM
“Iya, Dewi orangnya nyebelin banget. Udah gitu matre lagi. Kalau gue tahu dari awal, udah dari kemaren-kemaren gue putusin dia.” jawab Jarno. Mukanya sendu seperti biasa apabila dia putus cinta lagi.

Jarno memang sering kali putus cinta. Itu karena Jarno pun mudah jatuh cinta kepada gadis yang ia rasa sesuai untuknya. Apabila dia mulai menaruh perasaan pada seseorang maka tanpa pikir panjang lagi dia akan menyatakan cintanya. Hanya perlu waktu seminggu baginya untuk berpikir.

Selama Arumi berkawan dengan Jarno, sudah sering ia dimintai pendapat oleh Jarno tentang seorang gadis yang akan ditaksir Jarno. Sudah tak terhitung lagi berapa gadis yang pernah dipacarinya.

Kata orang Jarno itu playboy. Namun Arumi tak perduli dengan penilaian orang. Ia sudah lama berteman dengan Jarno. Bahkan sejak kecil. Tak mungkin ia menjauhi Jarno hanya karena sifat playboy Jarno.

Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, Arumi menaruh perasaan terpendam pada Jarno. Hanya saja ia tak mungkin menyatakannya terang-terangan pada Jarno. Ia tahu sifat Jarno, seperti halnya Jarno tahu sifat Arumi. Mereka memang sahabat akrab yang tak dapat dipisahkan lagi. Kalau Jarno bahagia, Arumi turut bahagia. Jarno sedih Arumi pun sedih pula.

Sifat Arumi yang rada-rada maskulin alias tomboy memang membuat Jarno senang berteman dengannya. Itu karena Jarno tak punya saudara lelaki. Maka jadilah Arumi sebagai tempat pelarian dia setiap harinya.


Arumi sudah merasa yakin, apabila ia menyatakan perasaan pada Jarno hanya membuat Jarno tertawa. Bahkan kemungkinan terburuk adalah Jarno akan menjauhi dirinya. Arumi tak ingin Jarno jauh darinya. Ia suka pada Jarno.

Itulah sebabnya setiap kali Jarno curhat padanya, ia selalu menyokong dari belakang. Bahkan ia memberi saran atau tip bagaimana menghadapi seorang gadis. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin suatu hari nanti, setelah Jarno bosan dengan gadis-gadis lain, saran dan tip itu Jarno pakai untuk merayu dirinya. Ah, satu khayalan yang terlalu tinggi mungkin.

Arumi bukan tak pernah berikhtiar menarik perhatian Jarno. Malah ia sering melakukan itu tanpa Jarno sadari setiap kali mereka bertemu. Arumi ingin Jarno jatuh cinta padanya bukan karena kasihan atau karena permintaan Arumi. Ia ingin Jarno cinta padanya dari sudut hati Jarno yang paling dalam.

Jarno mana mungkin cinta padanya. Semua gadis-gadis yang jadi incarannya adalah gadis-gadis tenar dan cantik. Arumi pasti tak ada dalam target Jarno. Bahkan andai ada waiting list pun, nama Arumi tak mungkin ada. Mungkin Arumi hanya masuk list apabila wanita di dunia ini hanya orang tua dan orang gila.

Jarno memang punya obsesi yang terlampau tinggi.
Standar gadis idaman dia tak mungkin berubah lagi. Adakalanya Arumi merasa seperti tebu. Habis manis sepah dibuang.

Apabila Jarno pacaran, nama Arumi tak diingat lagi. Nanti setelah Jarno putus, Arumi lah yang pertama menjadi tempat berbagi kesedihan. Dan pada saat itu, Arumi merasa bahagia sekali, dan ia siap menemani Jarno kemana saja Jarno inginkan. Hingga nanti bila tiba masanya Jarno jatuh cinta kembali dengan gadis lain, maka Arumi pun sadar diri. Dengan diam-diam Arumi akan keluar dari lingkaran kehidupan Jarno dan menonton kisah cinta Jarno dari penjuru yang gelap. Menanti masa percintaan Jarno apabila telah berakhir semula.

Arumi sadar, mukanya memang tak begitu cantik. Meskipun tak jelek-jelek amat. Mami pasti hanya menghibur hatinya saja.

Andai saja Tuhan berkenan mengganti mukanya dengan muka yang cantik seperti yang pernah dikatakan Jarno, mungkin Jarno akan tertarik padanya. Tapi apa daya Arumi?

“Jangan ngelamun dong, entar kesambet jin beneran gimana,” suara Jarno membuyarkan lamunan Arumi.

Brengsek bener nih Jarno. Nggak mau lihat gue senang. Arumi membatin dalam hati.

“Ayu memang cantik No, sebaiknya elu jalan aja entar malam ama dia. Kayaknya perfect banget deh orangnya gue lihat.” kata Arumi tersenyum manis.

“Nah gitu dong support gue,” Jarno telah mengacak-acak rambut Arumi sebelum Arumi sempat mengelak.

“Sinting elu. Sana mandi gih. Kuman elu menular ke gue tau.” Arumi menyemprot galak.

Dan sebelum Arumi melempar pakai sandal, Jarno sudah kabur lebih dahulu sambil tertawa puas. Arumi memang teman yang baik, pikir Jarno saat meninggalkan Arumi, sang perawan yang tengah bermain dengan mimpi dan perasaan.

Dari atas pohon, Rafly datang menghampiri Arumi. Novel Burung-burung Manyar karangan Y.B. Mangunwijaya telah tamat ia baca.

Rafly duduk di samping Arumi. Sejenak memandangi Arumi kemudian meluruskan pandangannya ke arah padang basketball mini. Rafly duduk berpangku tangan. Akhirnya dia berbaring di atas rumput hijau dan menatap langit biru. Arumi tergoda dengan pose Rafly, akhirnya ia pun berbaring memandang langit biru. Sambil menghembus napas panjang, Arumi mencoba menutup mata merasakan lembutnya rumput hijau di halaman rumah Jarno.

“Lupakan saja dia Ar,” suara Rafly membuat Arumi terpaksa membuka mata. Dia menoleh heran pada Rafly.

“Apa maksud elu Raf,” tanya Arumi tak mengerti.

“Lupakan sepupu gue Jarno. Gue tahu elu suka ama dia kan.” kata Rafly.

Arumi bangkit dari rumput dan duduk menatap Rafly dengan serius. Dia mencoba memahami apa yang barusan dikatakan Rafly. Apakah Rafly tahu perasaan gue?

“Gue sebenarnya kasihan sama elu Ar. Elu pikir semua orang nggak tahu kalau di antara kalian ada sesuatu?” Rafly bangkit dan memandang Arumi tajam. “Hanya Jarno aja yang nggak sadar dengan perhatian elu. Karena dia asyik dengan dunia dia sendiri.”

Arumi terpaku di tempatnya. Bibirnya bergetar menahan bermacam rasa di dada.

“Gue tadi dengar Jarno berkata pada Maminya, dia ingin Mami dan Papi meminang Ayu apabila tamat sekolah nanti. Tapi syaratnya Jarno harus yakin dulu, apakah Ayu bersedia menjadi kekasihnya. Dan Jarno pemuja gadis yang berpengalaman. Aku yakin Ayu pasti menerima Jarno.” kata Rafly panjang lebar.

“Maaf Ar, bukannya gue mo nyakitin elu, tapi elu harus tahu sejak awal agar elu nanti nggak ngerasa sakit banget.”

Azan magrib berkumandang. Arumi pulang dengan perasaan terpukul. Hatinya sakit banget. Walaupun ia tahu bahwa pada akhirnya nanti ia toh tak mungkin bersatu dengan Jarno, tapi pukulan itu datangnya begitu cepat tanpa memberi kesempatan padanya untuk menyiapkan diri.

Andai waktu masih bisa terulang, ia ingin dilahirkan dari ayah dan ibu yang tampan dan cantik, sehingga Jarno tentu akan sudi menjadi kekasihnya.

[bersambung]

pop
07-20-2009, 08:42 AM
so, bila nk sambung?

samaratungga
07-20-2009, 08:37 PM
Malamnya, Arumi tenggelam dalam kesedihan yang dalam. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi juga. Kali ini Jarno kembali mendapatkan pacar baru. Namun beda dengan yang sudah-sudah, kali ini Jarno benar-benar serius ingin mempersunting Ayu pujaan hatinya.

Nanti tak akan ada lagi hari-harinya bersama Jarno. Jarno yang diam-diam ia cintai namun bertepuk sebelah tangan. Tak ada lagi alasan baginya untuk setia mendampingi hari-hari Jarno. Apa gunanya aku menghibur seseorang sedangkan yang menghibur tak lebih bahagia daripada yang terhibur.

Tuhan, dengarlah permintaan hati yang teraniaya sunyi ini, yang terhalang kepastian cinta. Yang terjatuh dalam keindahan penantian khayalan.

Ya, Arumi kini membiarkan harapannya tersapu kabut malam. Rasa cintanya terhempas dalam ketidakpastian. Arumi merasa tak sempurna di mata Jarno.

Arumi tidur malam itu dengan kesedihan mendalam. Air mata gadis tak berdosa itu telah habis diserap bantal. Sedangkan Jarno malam itu pulang ke rumahnya dengan kebahagiaan tak terkira. Dan pohon mangga di antara rumah Jarno dan Arumi tak lagi bernyanyi seperti malam-malam yang telah lewat.

***
Besoknya, Jarno kembali janjian dengan Ayu untuk makan malam lagi seperti malam kemarin. Jarno sengaja memilih restoran seafood terkenal karena ia tahu Ayu paling demen makan seafood. Uang bukan masalah baginya kini. Uang tak ada artinya dibandingkan dengan bibir rembulan Ayu yang tersenyum memanah hatinya. Bahkan ia bersedia turun lebih dahulu dan membukakan pintu mobilnya ketika Ayu turun dari mobil saat ia antar pulang.

Di depan pintu rumah Ayu, berdiri seorang pemuda tegap menyambut Ayu dengan ramah. Ia memeluk Ayu dan Ayu menggandeng tangan pemuda itu.

“No, sini dong. Nih kenalin tunangan gue, namanya Arya,” kata Ayu tanpa ekspresi sama sekali.

Jarno terpana seketika dengan mulut menganga. Andai seekor lalat tak lewat tepat di depan mulutnya mungkin ia belum akan menutup mulutnya. Jadi selama ini Ayu ….

“Arya,” suara bariton pemuda itu membuyarkan pikiran Jarno. Ia ulurkan tangannya menyambut tangan Arya.

“Jar… ehm… Jarno,” kerongkongannya terasa tersumbat sesuatu. Tangan Arya menjabat kuat tangan Jarno seolah ingin mengisyaratkan bahwa Jarno tak mungkin mendapatkan Ayu sebab Arya akan selalu menghalangi niatnya.

“Makasih ya No, sudah mengantar Ayu pulang.” Arya mengucapkan terima kasih padanya, lalu bertanya pada Ayu, “kamu darimana aja sih sayang, aku udah lama nunggu dari tadi, koq ponselnya nggak diangkat angkat?”

“Oh tadi nggak kedengaran sayang. Mungkin lagi asyik makan kali. Aku tadi makan di restoran ama temanku Jarno. Kamu nggak marah kan.”

Ayu dan Arya masuk rumah tanpa menghiraukan lagi Jarno yang terdiam di tempatnya.

Jadi selama ini Ayu bohongin gue. Dia udah punya tunangan dan gue hanya dianggap teman aja, nggak lebih dari sekedar teman. Hati Jarno kecewa. Tega benar Ayu ngebohongin gue.

Jarno lihat sendiri betapa mesranya Ayu dan Arya. Bahkan mereka tak pernah saling memanggil ‘elu’ dan ‘gue’, mereka ber ‘aku’ dan ‘kamu’ tadi. Lain dengan dirinya. Ayu tak pernah memanggil dirinya ‘kamu’, selalunya ‘elu’. Playboy ini sekarang merasakan sakit untuk kesekian kalinya.

Jarno pulang dengan lunglai, tanpa semangat. Masih terbayang di benaknya lengan Ayu menggandeng Arya, seperti merenggut tulang belulang Jarno dari tubuhnya.

Setelah shalat isya Jarno – seperti biasa – naik ke tingkat dua rumahnya. Kemudian dari sana dia memanjat pohon mangga yang tumbuh di antara rumahnya dan rumah Arumi yang hanya berjarak lima meter saja. Ujung dahan mangga itu menjulur tepat di depan pintu kamar Arumi. Dan dalam waktu semenit saja Jarno telah berdiri di lantai depan pintu kamar Arumi.

Sejenak Jarno heran dengan kamar Arumi yang gelap tak seperti biasanya. Apakah Arumi belum pulang ya. Biasanya Arumi selalu main gitar di depan kamarnya bila malam seperti ini. Kemana sih Arumi?

Jarno melihat gitar Arumi tergeletak begitu saja di lantai tak jauh dari pintu kamarnya yang tertutup rapat. Sebuah gitar akustik tua dengan stiker tempelan bertulis G-coustic. Sebenarnya itu gitar milik Jarno tapi diberikan sebagai hadiah pada Arumi ketika Arumi ulangtahun ke 15.

Jarno mengambil gitar itu dan mulai memainkan. Bunyinya terasa kurang pas dan ia mulai mengatur stem gitar. Dia memainkan gitar dengan pelan saja berharap siapa tahu Arumi ada di lantai bawah dan mendengarnya.

“There’s no one like you…”

Baru saja Jarno hendak menyelesaikan kalimat dari lagu lama Scorpion, tiba-tiba matanya menangkap selembar kertas melambai-lambai yang terikat di ujung dahan mangga. Jarno mengambil kertas itu. Dari Arumi rupanya.

Jarno menyimak dengan teliti. Tulisan tangan Arumi yang rapi tak asing lagi di matanya.

“Jarno. Gue nggak pandai menulis jadi gue tulis semampu gue aja. Gue yakin elu pasti bisa nemuin surat ini karena hanya elu yang saban malam manjatin pohon mangga ini. No, elu temen baik gue. Gue terima kasih ama elu karena perhatian elu selama ini. Gue tahu elu pasti sedang bahagia sama Ayu. Gue harap kali ini elu udah temuin cinta sejati elu, pacar impian elu. Jadi elu nggak perlu lagi share ama gue karena tugas gue udah selesai.

Elu nggak usah nyari-nyari gue lagi. Gue udah pergi jauh, mencari suasana baru. Gue ingin mencari seseorang lain yang masih memerlukan perhatian gue dalam mencari cinta sejatinya.

Jarno, meskipun selama ini gue bisa nahan perasaan tapi kali ini gue nggak mau munafik. Gue sadar, gue sebenarnya sayang padamu. Tapi gue juga sadar, cewek macam gue bukanlah impianmu. Sekarang elu udah nemuin pacar baru. Semoga itu pacar terakhir elu.

Meskipun kita nggak mungkin lagi ketemu tapi izinkan aku mencintaimu meski hanya sekali saja. Gue nggak harapkan balasan cintamu, gue hanya ingin elu membenarkan rasa ini sehingga gue bisa yakin, bahwa bukan dosa jika mencintaimu.

Elu boleh ambil kembali gitar itu. Gue sengaja ubah stem gitar itu sehingga elu bisa stem kembali, seperti waktu pertama elu nyerahin ke gue. Gue nggak akan lupakan kenangan manis itu. Setelah itu tolong nyanyikan lagu untukku malam ini. Lagu untuk yang terakhir. Dari gue, Arumi.

Terdengar suara Papi Arumi sedang menaiki tangga dari lantai bawah. Sudah waktunya bagi Jarno untuk kembali menyeberang ke rumahnya lewat pohon mangga. Dia tak ingin Papi Arumi mergokin dirinya di sini. Jangan-jangan nanti dia disangka maling.

Jarno tak bisa tidur malam itu karena kekecewaan mendalam. Dua kali dia kecewa. Kecewa diputuskan Ayu dan kecewa ditinggalkan Arumi.

Ayu boleh saja memutuskan cintanya. Mungkin dia masih bisa mencari cinta lain seminggu kemudian. Tapi tanpa Arumi terasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Arumi yang selalu menemani siang bahkan malam seperti malam ini. Arumi yang pandai menghibur hatinya. Yang mampu menumbuhkan optimis dalam dirinya.

Jarno kini sadar apabila dia mengingat kembali percintaannya dengan gadis-gadis. Setiap kali dia jalan bareng pacarnya, selalu saja terbit dalam hatinya kata-kata seperti “andai Arumi bisa seperti pacarku, andai Arumi bisa seperti ini, seperti itu”, dan masih banyak lagi.

Bahkan ternyata Arumi tak pernah lepas dari dirinya meskipun dia terlibat percintaan dengan orang lain.

Ya, sebenarnya Arumi lah yang selalu ada di hatinya meskipun Jarno tak sadar selama ini. Dia tak dapat mengingkari kenyataan ini.

Lantas, apakah yang salah dengan Arumi? Jarno jadi bingung sendiri. Dia mencoba mengingat-ingat apa kekurangan Arumi. Hampir tak ada kekurangannya.

Apakah karena wajah Arumi standar saja? Rasanya bukan. Jarno sama sekali tak memandang wajah seseorang dalam menentukan pilihannya. Apakah karena dia telah berteman semenjak kecil? Rasanya bukan juga. Apa yang salah dengan Arumi?

Jarno tak tahu, justru ‘kesalahan’ Jarno di mata Arumi karena selama ini pacar Jarno terlihat cantik, sehingga Arumi menilai bahwa Jarno tak mungkin memacari cewek biasa. Satu ‘kesalahan’ yang sebenarnya bukan kesalahan Jarno. Hanya kebetulan saja Jarno tidak – atau mungkin belum – mendapatkan pacar sederhana.

samaratungga
07-20-2009, 08:40 PM
Siang berganti malam, malam berganti siang. Seminggu sudah Arumi hilang dari kehidupan Jarno. Selama itu pula Jarno mengalami proses penyadaran pikiran yang drastis. Ponsel Arumi tak pernah lagi aktif meskipun dia berulangkali mencoba memanggil. Papi dan Mami Arumi tak mungkin ditanya karena mereka ke Hongkong demi urusan bisnis.

Jarno kini sadar, malaikat memang tak selamanya bersayap, cemerlang dan rupawan. Namun, sejauh mana kita mencari kesempurnaan sedangkan kita tak melihat bahwa tak jauh dari diri sendiri ada seseorang yang ‘sempurna’ dalam ‘ketidaksempurnaannya’. Yang bisa mengisi kekurangan kita, yang bisa melengkapi apa-apa yang belum bisa kita lakukan.
[bersambung]

pop
07-21-2009, 08:24 AM
aduh sam, d sambungi lg kok?
cepeten lho nyambung nya..:D:D
gue jd penasaran nih..:p:p

samaratungga
07-22-2009, 04:25 PM
Arumi membiarkan telapak hingga pergelangan kakinya terendam air sungai yang bening dan dingin. Dia ingin air sungai yang dingin itu ikut membasahi hatinya. Udara perkampungan yang masih asri sungguh membuatnya terasa betah berlama-lama duduk di belakang rumah kakeknya ini. Kakeknya seorang pensiunan tentara di zaman orde baru. Pernah bertugas di Timor Leste dalam Operasi Seroja selama empat bulan saat negara itu belum memisahkan diri.

“Kek, kenapa sih kakek jadi tentara. Kakek senang ya membunuh orang,” tanya Arumi pada kakeknya waktu masih kecil dulu.

“Kakek bukan senang membunuh orang Ar, tapi kakek nggak ada pekerjaan lain waktu itu selain jadi tentara. Emangnya Arumi pikir membunuh itu pekerjaan mudah?” kata kakeknya sambil menyeruput kopi buatan neneknya.

Konon kabarnya kopi buatan neneknya sangat nikmat, karena ada resep rahasia di dalamnya. Entah resep apa mungkin hanya dua orang yang tahu di dunia ini yaitu neneknya dan seorang lagi yang entah berada di mana.

Menurut kakeknya, kopi buatan nenek memang nikmat, tapi kopi buatan yang seorang lagi entah bagaimana rasanya. Mungkin rasa manis campur asam begitu kental, melebihi dari tingginya cawan kopi itu sendiri.

Arumi menendang-nendang air sungai itu dengan iseng. Sepasang kakinya tampak maju mundur dalam air sungai, membuat seekor ikan mujair yang tak jauh dari situ terpaksa berenang menjauh.

Seekor katak betina di atas daun keladi tampak melotot memandang Arumi. Matanya yang besar berkedip-kedip memperhatikan gadis itu. Mungkin heran karena baru kali pertama ia melihat ada seorang gadis di tepi sungai ini.

Katak itu lalu mengalihkan perhatiannya pada seekor capung merah yang melayang-layang tak jauh dari rumpun keladi. Katak berkonsentrasi hendak menangkap capung. Begitu ia hendak menjulurkan lidahnya untuk menjerat si capung, capung itu pun lebih dahulu terbang menjauh seolah mengejek katak “rasain elu”.

“Sial banget elu wahai katak,” kata Arumi sambil tersenyum lebar.

Karena kecewa, katak lalu melompat ke atas daun eceng gondok yang menyembul di atas permukaan air. Tapi sayangnya, daun eceng gondok begitu lemah untuk dipijak kaki katak. Tak ayal lagi, katak pun jatuh ke dalam sungai tanpa ampun. Arumi yang dari tadi memperhatikan peristiwa itu sontak tertawa melihat kesialan katak hijau itu.

Katak itu lalu mendekati seekor katak jantan di seberang sungai. Suara katak jantan yang serak dan memecah kesunyian sepertinya menarik minat katak betina tadi. Ia menghampiri katak jantan dengan malu-malu kucing. Mungkin ia tak ingin katak jantan menganggap dirinya terlalu agresif.

Katak betina itu kemudian berenang hilir mudik di hadapan katak jantan. Sesekali matanya yang berkedip-kedip memandang katak jantan seolah-olah ingin berkata “godain gue dong”.

Katak jantan tak perduli dengan tingkah laku katak betina yang gatal. Alih-alih menghampiri katak betina, katak jantan malah melompat ke atas akar pohon dan menghampiri katak betina lain yang berkulit indah, meninggalkan katak betina hijau yang malu tak mendapat respon seperti ia harapkan.

Akhirnya katak betina itu mengeluarkan suara lirih dan melompat-lompat menuju hulu sungai. Ia ingin mencari kumpulan katak jantan di hulu sana. Siapa tahu ada seekor yang berminat dengannya.

Melihat nasib katak betina yang malang, Arumi mendadak teringat dengan dirinya tak jauh berbeda dengan katak itu. Dirinya yang malang. Yang memendam rindu dendam namun rindu itu hanya bisa menari indah dalam hati dan pikirannya. Rindu yang seolah menghukum kelancangannya karena berani mengundang masuk ke dalam hatinya sendiri.

Arumi menghela napas panjang. Ia melihat pelangi muncul di ufuk cakrawala. Pelangi itu tak seindah yang ia harapkan. Terasa kontras dengan suasana hatinya. Balon di tangannya melambai-lambai ditiup angin petang. Sia-sia saja ia memegang balon itu. Bahkan buat memancing pun balon itu tak mungkin.

Mengapa cinta ini terlarang. Mengapa cinta ini tak bisa bersatu. Rasa cinta ini sungguh tak wajar bermain dalam ingatanku. Mengapa cerita dewi Sinta dalam Ramayana dan Drupadi dalam Mahabarata terlalu indah. Mengapa kisah cinta dalam novel selalunya indah. Apakah kisah cinta itu dikarang oleh seniman yang tak tahu dunia sebenarnya.

Masih terngiang ucapan kakeknya kemarin, “Tuhan tak melihat rupa dan wajahmu, tapi Dia melihat langsung ke dalam hatimu”.

Kenapa bukan Jarno yang membisikkan itu kepadaku. Ingin rasanya ia mencari sebuah lingkaran yang bisa menembus masa silam, dan melemparkan Jarno ke masa silam. Ke masa nabi-nabi. Ia ingin Jarno mendengar langsung hadis riwayat Muslim yang dikatakan kakeknya itu dari nabi-nabi. Sehingga Jarno berkenan menerima cintanya.

Hmm.. barangkali lingkaran waktu itu ada di dasar sungai ini. Haruskah aku tenggelamkan diri ke dasar sungai ini? Adakah kebahagiaan di balik dasar sungai ini? Astaghfirullah….

Arumi tak dapat membohongi kata hatinya. Jarno masih tersimpan di hatinya, meskipun raganya tak mungkin ia miliki, walaupun Jarno tercipta bukan untuknya. Tuhan, berikan arti pada hidupku ini, yang terhempas, yang terlepas.

Pelangi semakin memudar di cakrawala. Suara-suara nyanyian katak semakin semarak, seperti lagu meminta hujan. Tak lama lagi mesti hujan turun, pikir Arumi. Ia telah merasakan tetes-tetes lembut air hujan mulai menerpa sekujur tubuhnya. Namun masih cukup lembut untuk bisa mengusirnya dari tempat itu.

Arumi mulai menangis lirih di tengah gerimis. Air matanya terasa hangat menetes di pipinya. Air mata kerinduan dari seorang gadis yang memendam pilu. Ia ingin air matanya bersatu dengan sungai dan membawanya ke muara hingga lenyap ditelan laut. Ia ingin tenggelamkan kesedihan ke dalam laut selatan, sehingga lenyap ditelan mitos-mitos kuno Nyi Loro Kidul yang terpendam di dasar Samudra Hindia.

Arumi seperti mendengar suara-suara mitos itu menyambut dirinya, seperti ada irama nyanyian dari dasar sungai, tembang-tembang gamelan yang bertalu satu satu dengan rentak ritmis misterius.

Kali ini irama itu semakin keras terdengar. Dalam tangis ia menyimak suara itu. Seperti suara melodi gitar yang tak asing di telinganya. Benar, itu suara gitar, terdengar cukup dekat di telinganya, berasal dari belakangnya.

Akhirnya Arumi menoleh ke belakang. Tak jauh darinya, ia melihat Jarno duduk bersandar pada pohon waru sambil memainkan irama opening dari lagu punya Dewi Lestari. Pohon yang sama ketika Jarno menghadiahkan gitar itu padanya waktu ulangtahunnya yang ke lima belas.

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu, bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau selalu bercanda, andai wajahku diganti
Biarkan kupergi
Karena tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu, aku kan jadi juaranya

Arumi seperti tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ia menghapus air mata di pipinya. Tapi itu memang Jarno. Jarno yang selama ini ia rindui.

Hujan turun semakin deras. Tubuh Arumi telah basah kuyup. Namun ia tetap terpaku di tempatnya. Benarkah dia Jarno? Atau utusan Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan?

“Kamu nggak kedinginan di tengah hujan begitu?” Jarno tertawa memperlihatkan sebaris giginya yang putih bersih.

Kali ini duka di wajah Arumi telah berganti ceria, meskipun hujan menyapu sekujur tubuhnya tanpa ampun. Kakeknya memang benar, kecantikan bukan pada wajah, tapi ada dalam hati. Inner beauty seperti yang dikatakan konsultan kecantikan di layar TV.

Arumi melepaskan balon-balon di tangannya ke udara, membiarkan balon-balon itu menuju pelangi yang sekejap lagi akan lenyap selepas mengantar Jarno ke dalam hatinya. Tak jauh dari situ, seekor kelinci yang tengah berlindung memandang balon-balon itu hingga jatuh terapung dan hanyut terseret arus sungai.

“Sini dong Ar, nanti kamu sakit sayang,” Jarno memanggil dengan lembut, hampir menyerupai bisikan saja.

“Nggak mau, Jarno aja yang kesini…,” Arumi merajuk manja, meminta Jarno menghampiri dirinya.

Jarno melepas T-shirt biru miliknya dan berjalan menghampiri Arumi. Menghampiri perempuan yang akan mengisi separuh jiwanya.

Arumi terus merajuk dan merengek, meminta Jarno berlari ke arahnya. Jarno apalagi, ia pun berlari mendapatkan Arumi. Sebelum Arumi berusaha mengelak, Jarno telah berhasil menggenggam tangannya.

Jarno melindungi kepala Arumi dengan T-Shirt biru itu dan mereka berdua berlari ke bawah pohon cendana, dimana Jarno pernah menorehkan nama mereka dalam sebuah gambar berbentuk hati, pada batang pohon itu bertahun-tahun yang lepas. Nggak ada yang tahu apa maksud Jarno menulisnya, namun masa telah menjelaskan arti abjad-abjad itu sekarang.

Mereka berteduh di bawah pohon cendana, menanti hujan berhenti. Masing-masing tersenyum penuh arti dalam pelukan angin petang.

“Aku cinta padamu,” kata Jarno sambil memasukkan sebuah cincin ke jari manis Arumi. Cincin itu sebenarnya milik Papi Jarno yang pernah diserahkan pada Mami Jarno sebagai tanda cinta mereka ketika itu. Dan kini, dengan cincin yang sama Jarno memberikannya pada Arumi. Ia titipkan kepercayaan pada jari manis Arumi yang lentik.

Pelangi telah lama menghilang di cakrawala, berganti menyusup masuk ke dalam hati Arumi.

Diam-diam Arumi berjanji, pelangi itu tak akan ia lepaskan lagi. Dan Jarno telah yakin bahwa malaikat tak selalunya rupawan.

Di tepi sungai, puluhan ekor katak menyanyi dan menari riang menyambut hujan turun. Seperti turut gembira menyaksikan kisah cinta Arumi yang indah, manakala hujan November turun semakin syahdu.

“Aku juga cinta padamu, Jarno ku sayang,” jawab Arumi tapi hanya dalam hati saja.

[tamat]

pop
07-22-2009, 04:46 PM
waaaa best nyerr... romantik nyerr jarnoo.. gue mau pacar kayak jarno..

samaratungga
07-22-2009, 05:19 PM
pacar pop yang sekarang ni nak sepak kemana pula? :)

pop
07-22-2009, 05:20 PM
adusss.. pacar yg mna sih? ngga ada lho..

samaratungga
07-22-2009, 05:28 PM
owh .. nggak ada ya... sorry sorry...
ingatkan ada... :)

awatif
07-22-2009, 06:18 PM
sam.. best la cita ni wlupun mula cm confuse cket.. rasa mcm terbawa dlm suasana hujan di tepi sungai dan katak2 yg bersuara lunak.. indahnya.....8->

samaratungga
07-22-2009, 06:41 PM
sam.. best la cita ni wlupun mula cm confuse cket.. rasa mcm terbawa dlm suasana hujan di tepi sungai dan katak2 yg bersuara lunak.. indahnya.....8->

trimakasih awatif...
ni cerpen pertama aku yg happy ending..
awal lagi aku agak ragu nak post :):)

awatif confuse ayat mana?

mawar putih
07-24-2009, 09:35 PM
gud job sam!http://www.laymark.com/i/m/m121.gif (http://www.laymark.com)
berbakat sungguh abg tirisku...:D



Konon kabarnya kopi buatan neneknya sangat nikmat, karena ada resep rahasia di dalamnya. Entah resep apa mungkin hanya dua orang yang tahu di dunia ini yaitu neneknya dan seorang lagi yang entah berada di mana.

Menurut kakeknya, kopi buatan nenek memang nikmat, tapi kopi buatan yang seorang lagi entah bagaimana rasanya. Mungkin rasa manis campur asam begitu kental, melebihi dari tingginya cawan kopi itu sendiri.

spe ek yg sorang lg tu...http://www.laymark.com/i/m/m131.gif (http://www.laymark.com)(mawar la spe lg)

asam bkn sebarang asam tu....mmg sedap!http://www.laymark.com/i/m/m087.gif (http://www.laymark.com)

samaratungga
07-24-2009, 10:05 PM
gud job sam!http://www.laymark.com/i/m/m121.gif (http://www.laymark.com)
berbakat sungguh abg tirisku...:D




spe ek yg sorang lg tu...http://www.laymark.com/i/m/m131.gif (http://www.laymark.com)(mawar la spe lg)

asam bkn sebarang asam tu....mmg sedap!http://www.laymark.com/i/m/m087.gif (http://www.laymark.com)

kopi buatan nenek memang nikmat, tapi kopi buatan yang seorang lagi entah bagaimana rasanya

=)) =)) =)) =)) =))

awatif
07-26-2009, 11:40 AM
trimakasih awatif...
ni cerpen pertama aku yg happy ending..
awal lagi aku agak ragu nak post :):)

awatif confuse ayat mana?

bukan ayat yg cnfuse... tp bahasanya mas... hikhikhik! keseluruhannya masih faham.. sweet.. penuh perasaan..